Rabu, 04 Mei 2011

Hari Tanpa Tembakau (Merokok)

Tut….Tut….Tut….Merokok Bahaya Lho!!!!

       Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai ,penghilang stress dan sugesti merasa lebih jantan kepada penikmatnya. Namun, di balik efek kenikmatan yang sekecil diatas itu, rokok ternyata dapat memberikan penyakit-penyakit dan kerugian yang sebegitu besarnya bagi penikmat maupun orang disekitar penikmat rokok tersebut (perokok pasif). 
       Merokok adalah menghisap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar (Amstrong, 1990 dalam Kemala, 2007). Sedangakn menurut Levy (1984) mengatakan bahwa perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya (Kemala, 2007).

       Dari hasil survei Departemen Kesehatan RI (Depkes RI) pada tahun 2003, hampir satu dari tiga orang dewasa merokok dan lebih banyak pria pedesaan yang merokok (67%) dibandingkan dengan pria dari perkotaan (58,3%).  Den menurut survei sosial dan ekonomi nasional (Susenas) 1995 dan 2001 menunujukan bahwa propinsi dengan persentase penduduk pedesaan yang merokok  paling tinggi berturut-turut adalah Lampung (32%), Jawa Barat (31%), Kalimantan Barat (31%), dan Bengkulu (30%). Propinsi dengan persentase penduduk perkotaan yang merokok paling tinggi adalah Jawa Barat, NTB, dan Lampung. Lampung dan Jawa Barat juga menjadi propinsi dengan persentase penduduk yang merokok paling tinggi secara nasional, sedangkan paling rendah adalah Bali. Selain itu, kebiasaan merokok juga lebih banyak terjadi pada orang yang berpendidikan rendah. Menurut survei secara nasional menunjukkan bahwa pria yang tidak sekolah/tidak tamat SD merupakan perokok terbanyak. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin sedikit yang jadi perokok. Sedangkan wanita hanya sedikit yang jadi perokok. Survei yang sama juga menemukan bahwa laki-laki remaja lebih banyak menjadi perokok dan hampir dua pertiga dan kelompok umur produktif adalah perokok. Pada pria, prevalensi perokok tertinggi adalah kelompok umur 25-29 tahun. Sebagian besar perokok mulai merokok pada umur kurang dari 20 tahun dan separuh dari laki-laki umur 40 tahun ke atas telah merokok selama 30 tahun atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan hampir 70% perokok Indonesia mulai merokok sebelum mereka berumur 19 tahun (Jamal, 2006). Keadaan inilah yang menyebabkan Indonesia dijadikan sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia (Aliansi Perokok Indonesia, 2008).
       Asap rokok mengandung berbagai macam bahan kimia berbahaya yang bersifat racun, karsinogenik dan adiktif. Bahan-bahan kimia yang berbahaya tersebut antara lain :
a.    Partikel Nikotin
Rumus kimia nikotin adalah C10H14N2. Nikotin merupakan suatu zat yang tidak berwarna, berminyak, larut dalam air, dan suatu cairan alkaloid (zat organik yang mengandung nitrogen, terasa pahit, tidak berwarna, berbentuk kristal, dan memiliki susunan alkali) yang sangat beracun. Nikotin terdapat dalam tembakau dan memiliki efek yang lebih merugikan dan membawa maut daripada obat narkotik, kokain, heroin, atau alkohol. Dalam ensiklopedia kedokteran, nikotin dianggap sebagai obat tetapi tidak digunakan dalam kedokteran (Soen, 1994). Pada wanita yang merokok dapat mengalami menopause yang lebih cepat. Hal ini kemungkinan disebabkan karean nikotin mempengaruhi sistem syaraf pusat sehingga produksi hormone berkurang , selain itu nikotin juga  mengaktifkan metabolism enzim hati yang dapat mengubah metabolisme hormon kelamin. Pada paru – paru, nikotin akan menghambat aktivitas silia. Selain itu nikotin juga memiliki efek adiktif dan psikoaktif, karena hal tersebut itulah yang menyebabkan perokok merasakan kenikmatan, kecemasan berkurang, toleransi dan keterikatan fisik. Hal inilah yang menyebabkan mengapa sekali merokok susah untuk berhenti. Efek nikotin menyebabkan perangsangan terhadap hormone kathelokamin (adrenalin) yang bersifat memacu jantung dan tekanan darah. Jantung tidak diberikan kesempatan istirahat dan tekanan darah akan semakin tinggi, yang mengakibatkan timbulnya hipertensi.Efek lain adalah merangsang berkelompoknya trombosit. Trombosit akan menggumpal dan akan menyumbat pembuluh darah yang sudah sempit akibat CO.
b.    Tar
Tar adalah kumpulan dari bahan kimia dalam komponen padat asap rokok setelah dikurangi nikotin dan air. Tar adalah  sejenis cairan kental berwarna coklat tua atau hitam yang merupakan substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru – paru. Kadar tar dalam tembakau antara 0.5 – 35 mg/ batang. Tar merupakan suatu zat karsinogen yang dapat menimbulkan kanker pada jalan nafas dan paru – paru.
c.    Gas Karbonmonooksida (CO)
Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna dari unsur zat arang/ karbon. Gas CO yang dihasilkan sebatang tembakau dapat mencapai 3% - 6%, dan gas ini dapat dihisap oleh siapa saja. seorang yang merokok hanya akan menghisap 1/3 bagian saja, yaitu arus tengah, sedangkan arus pinggir akan tetap berada di luar. Sesudah itu perokok tidak akan menelan semua asap tetapi ia semburkan lagi keluar. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, lebih kuat dibandingkan oksigen, sehingga setiap ada asap tembakau, disamping kadar oksigen udara yang sudah berkurang, ditambah lagi sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen karena yang diangkut adalah Co dan bukan oksigen. Sel tubuh yang kekurangan oksigen akan melakukan spasme, yaitu menciutkan pembuluh darah. Bila proses ini berlangsung terusa menerus, maka pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya proses aterosklerosis (penyempitan). Penyempitan pembuluh darah akan terjadi di mana – mana.
d.    Bahan-bahan kimia yang bersifat karsinogenik, antara lain partikel fenol, hidrazin, benzopirin, toluen, dan gas nitrosamin.
e.     Bahan kimia yang bersifat racun, antara lain naftalen, gas NOx, ammonia, metana, dan hidrogensianida (Susilo, 2002). Bahan-bahan yang terkandung dalam asap rokok sebagian terdapat dalam fase gas dan sisanya dalam fase tar. Fase tar adalah bahan yang terserap dari penyaringan asap rokok yang menggunakan suatu filter yang disebut sebagai filter Cambridge dengan ukuran pori-pori 0,1 μm. Fase gas adalahberbagai macam gas yang berbahaya yang dihasilkan asap rokok. Pada kedua fase ini terkandung bahan campuran yang dapat mengubah oksigen menjadi radikal bebas superoksida (O2 -) dan reaksi kimia akan berlanjut membentukhydrogen peroksida (H2O2) dan radikal bebas hidroksil (OH-). Ketiga unsure ini termasuk ke dalam Reactive Oxygen Species (ROS) dan ROS ini dapat menimbulkan kerusakan sel (Boby dkk, 2001). Berbagai metabolisme normal dalam tubuh sebenarnya dapat menghasilkan radikal bebas, akan tetapi dalam jumlah kecil sebagai produk antara. Dengan bertambahnya usia, radikal bebas yang terbentuk selama metabolisme normal akan dapat merusak DNA dan makro molekul lain sehingga dapat terjadi penyakit-penyakit degeneratif, keganasan, dan kematian sel-sel vital tertentu yang pada akhirnya akan menyebabkan proses penuaan dan kematian bagi individu tersebut (Retno, 1995). Kebiasaan merokok bisa menjadi penyebab impotensi karena nikotin dalam rokok yang terserap oleh darah akan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, termasuk penyumbatan pembuluh darah dalam penis (Susilo, 2002).
Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah saw bersabda “ Barang siapa yang menghisap racun, maka raunnya ada ditangannya dan dia akan menghisapnya di neraka Jahannam, kekal dan dikekalkan didalamnya selama lamanya”  (Muttaffaqun alaihi, Bukhari Muslim).
Dari hadits diatas, secara tidak langsung dapat dijelaskan bahwa nabi Muhammad SAW telah memerintahkan kita untuk menjauhi  dan melarang untuk menghisap rokok (merokok).  Selain dilarang menurut hadits diatas, rokok juga memiliki dampak negative yang sangat besar bagi kesehatan.
Dampak merokok bagi kesehatan tersebut antara lain:    
1.    Perempuan perokok memiliki risiko dua kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan bahwa lendir serviks pada perempuan perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya di dalam rokok. Menurut penelitian, zat-zat tersebut dapat menurunkan daya tahan serviks.
2.    Kebiasaan merokok bagi kaum perempuan akan berdampak mengurangi tingkat kesuburan, menyebabkan keguguran, dan menimbulkan masalah reproduksi lainnya; misalnya meningkatkan risiko terhadap kanker vulva. ( kanker pada alat kelamin luar ). Wanita yang tidak merokok memiliki komplikasi yang lebih sedikit terhadap kehamilan dan memiliki bayi yang lebih sehat dibanding perokok. Merokok selama masa kehamilan berbahaya karena kehamilan merupakan masa perkembangan janin. Seorang ibu perokok dapat melahirkan bayi prematur atau dengan berat lahir rendah, penyakit pernapasan dan penyakit lainnya. Nikotin dalam rokok akan menyebabkan pembuluh darah pada tali pusat dan uterus menyempit, sehingga akan menurunkan jumlah oksigen yang diterima bayi. Nikotin juga menurunkan jumlah darah dalam aliran darah bayi, yang dapat berakibat berat lahir bayi menjadi rendah. Wanita yang merokok selama kahamilan memiliki resiko pecahnya membran secara prematur sebelum proses kelahiran dimulai. Ini dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan kemungkinan kematian janin. Jika ibu menyusui merokok, maka air susunya kemungkinan mengandung nikotin, dan akan membahayakan bayi yang meminumnya (Riwan, 2004). Selain itu, jika kedua orang tuanya perokok mengakibatkan daya tahan bayi menurun pada tahun pertama, sehingga meningkatkan bayi menderita radang paru – paru maupun bronchitis  sebesar 2X lipat dibandingkan yang tidak merokok, sedangkan terhadap infeksi lain meningkat 30%. Terdapat bukti bahwa anak yang orang tuanya merokok menunjukkan perkembangan mentalnya terbelakang.
3.    Merokok dan minum kopi yang berlebihan akan mengakibatkan penurunan massa tulang, terlebih lagi jika disertai dengan masukan kalsium yang rendah. Hal ini karena zat yang terkandung dalam rokok dan kopi dapat memperbanyak pengeluaran kalsium melalui kencing dan tinja, sehingga mempercepat proses terjadinya osteoporosis.
4.    Andropause adalah kondisi pria di atas umur pertengahan atau tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda, dan keluhan mirip menopause pada wanita. Karena itu istilah andropause sering disebut sebagai penopause pada pria. Pria di atas umur tengah baya, produksi spermatozoa dan hormone testosteron turun secara perlahan/bertahap (Susilo, 1998). Perubahan hormonal ini terjadi sekitar usia 40-an dan tampak nyata pada usia 50-an (Strenbach, 1998). Tetapi ada yang terjadi secara dini yaitu sekitar umur 30-an (Nayla, 2007). Merokok menurut Tan dapat menekan kadar hormone testosteron, sehingga merokok merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat terjadinya andropause (Tan, 2001). Andropause yang terjadi secara dini tersebut umumnya akibat adanya kelainan pada testisnya (Susilo, 1998). Efek penurunan hormon testosteron terhadap tulang dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis. Osteoporosis yang terjadi, selain diakibatkan oleh penurunan hormon testosteron, juga berhubungan nyata dengan peningkatan hormon prolaktin pada usia lanjut (Susilo, 1998). Selain osteoporosis, manifestasi atau akibat yang dapat ditimbulkan dari defisiensi hormon testosteron antara lain yaitu: depresi, anxietas, insomnia, kelelahan, penurunan libido, impotensi, penurunan daya ingat,penurunan  massa tulang dan otot otot, serta berkurangnya jumlah rambut kemaluan (Sternbach, 1998).
5.    Merokok akan mengurangi aliran darah yang diperlukan untuk mencapai suatu keadaan ereksi. Karena hal tersebutlah rokok dapat mempengaruhi daya ereksi penis. Rokok dapat mempengaruhi kesuburan dan potensial seksual kaum pria. Seorang yang merokok selama bertahun-tahun akan tercemar darahnya oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa ke seluruh tubuh termasuk ke organ reproduksi. Racun nikotin berpengaruh terhadap spermatogenesis atau terjadinya pembelahan sel sperma pada pria. Efek rokok tidak hanya mempengaruhi kualitas dan kuantitas sperma, tetapi juga menjadi faktor resiko disfungsi ereksi (impotensi). Impotensi seksual adalah keadaan dimana ereksi penis tidak dapat dicapai atau dipertahankan untuk melakukan hubungan kelamin. Ereksi tidak dapat terjadi bila darah tidak mengalir bebas ke penis. Oleh karena itu pembuluh darah harus dalam keadaan baik. Merokok dapat merusak pembuluh darah, nikotin menyempitkan arteri yang menuju penis, mengurangi aliran darah dan tekanan darah menuju penis. Efek ini meningkat bersamaan dengan waktu. Masalah ereksi ini merupakan peringatan awal bahwa tembakau telah merusak area lain dari tubuh.
6.    Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mucus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM). Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma. Hubungan antara merokok dan kanker paru-paru telah diteliti dalam 4-5 dekade terakhir ini. Didapatkan hubungan erat antara kebiasaan merokok, terutama sigaret, dengan timbulnya kanker paru-paru. Bahkan ada yang secara tegas menyatakan bahwa rokok sebagai penyebab utama terjadinya kanker paru-paru. Partikel asap rokok, seperti benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen. Selain bahan tersebut, tar juga meningkatkan  risiko terjadinya kanker. Dibandingkan dengan bukan perokok, kemungkinan timbul kanker paru-paru pada perokok mencapai 10-30 kali lebih sering. Asap rokok juga dapat meningkatkan  jumlah anak penderita asma. Hasil survei asma pada anak-anak sekolah di beberapa kota di Indonesia, seperti di Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Denpasar menunjukkan prevalensi asma pada anak SD 6-12 tahun berkisar antara 3,7%- 16,4%. Prevalensi pada anak SMP di Jakarta Pusat sebesar 5,8% pada tahun 1995. Pada tahun 2001 di Jakarta Timur sebesar 81,6%. (Sianturi, 2003).
7.    Merokok dapat mengurangi jumlah oksigen didalam otak, sehingga mempengaruhi fungsi memori. Sebuah tes membuktikan bahwa mereka yang menghabiskan satu bungkus rokok sehari mengalami kesulitan mengingat wajah dan nama dibanding non-perokok. Nikotin yang diabsorpsi dapat menimbulkan tremor tangan dan kenaikan berbagai hormone dan neurohormon dopamine di dalam plasma. Berdasarkan rangsangannya terhadap “chemoreceptors trigger zone” dari sumsum tulang belakang dan stimulasinya dari refleks vagal, nikotin menyebabkan mual dan muntah. Di lain pihak, nikotin itu diterima oleh reseptor asetilkolin nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya, perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan serotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan senang sekaligus mencari tembakau lagi.Efek dari tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya rangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor. Studi tentang hubungan tembakau dan daya ingat juga dilakukan baru – baru ini. Dari hasil analisis otak, peneliti dari Neuropsychiatric Institute University of California menemukan bahwa jumlah dan tingkat kepadatan sel yang digunakan untuk berpikir pada orang yang merokok jauh lebih rendah daripada orang yang tidak merokok. Orang yang tidak merokok dan tinggal bersama perokok (perokok pasif) memiliki peningkatan risiko sebesar 20 – 30 % dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan bukan perokok.
8.    Banyak penelitian telah membuktikan adanya hubungan merokok dengan penyakit jantung koroner (PJK). Dari 11 juta kematian per tahun di negara industri maju, WHO melaporkan lebih dari setengah (6 juta) disebabkan gangguan sirkulasi darah, di mana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah stroke. Survei Depkes RI tahun 1986 dan 1992, mendapatkan peningkatan kematian akibat penyakit jantung dari 9,7 persen (peringkat ketiga) menjadi 16 persen (peringkat pertama). Risiko terjadinya PJK akibat merokok berkaitan dengan dosis dimana orang yang merokok 20 batang rokok atau lebihdalam sehari memiliki resiko sebesar dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum untuk mengalami kejadian PJK. Risiko terjadinya penyakit jantung koroner meningkat 2-4 kali pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok. Risiko ini meningkat dengan bertambahnya usia dan jumlah rokok yang diisap. Penyumbatan pembuluh darah otak yang bersifat mendadak atau stroke banyak dikaitkan dengan merokok. Risiko stroke dan risiko kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok.  Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung tersebut. Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan perifer. Umumnya fokus penelitian ditujukan pada peranan nikotin dan CO. Kedua bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard) sehingga merugikan kerja miokard. Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. Karbon monoksida menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah penggumpalan darah. Nikotin, CO, dan bahan-bahan lain dalam asap rokok terbukti merusak endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan mempermudah timbulnya penggumpalan darah. Di samping itu, asap rokok mempengaruhi profil lemak. Dibandingkan dengan bukan perokok, kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida darah perokok lebih tinggi, sedangkan kolesterol HDL lebih rendah.  Pada seseorang yang merokok, asap tembakau akan merusak dinding pembuluh darah. Kemudian, nikotin yang terkandung dalam asap tembakau akan merangsang hormon adrenalin yang akibatnya akan mengubah metabolisme lemak dimana kadar HDL akan menurun. Adrenalin juga akan menyebabkan perangsangan kerja jantung dan menyempitkan pembuluh darah. Demikian pula faktor stress yang akhirnya melalui jalur hormon adrenalin, menyebabkan proses penyakit jantung koroner terjadi sebagaimana asap tembakau tadi. Seseorang yang stress yang kemudian mengambil pelarian dengan jalan merokok sebenarnya sama saja dengan menambah risiko terkena jantung koroner. Sekitar 90% penderita artritis obliteran pada tingkat III dan IV umumnya akan terkena penyakit jantung. Oleh karena proses penyempitan arteri koroner yang mendarahi otot jantung, maka ketidakcukupan antara kebutuhan dengan suplai menimbulkan kekurangan darah (ischemia). Bila melakukan aktifitas fisik atau stress, kekurangan aliran meningkat sehingga menimbulkan sakit dada. Penyempitan yang berat atau penyumbatan dari satu atau lebih arteri koroner berakhir dengan kematian jaringan/ Komplikasi dari infark miokard termasuk irama jantung tidak teratur dan jantung berhenti mendadak. Iskemia yang berat dapat menyebabkan otot jantung kehilangan kemampuannya untuk memompa sehingga terjadi pengumpulan cairan di jaringan tepi maupun penimbunan cairan di paru – paru.Orang yang merokok lebih dari 20 batang tembakau/hari memiliki risiko 6x lebih besar terkena infark miokard dibandingkan dengan bukan perokok. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama dari kematian di negara – negara industri dan berkembang, yaitu sekitar 30% dari semua penyakit jantung berkaitan dengan tembakau.
9.    Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris, didapatkan kebiasaan merokok memperbesar kemungkinan timbulnya AIDS pada pengidap HIV. Pada kelompok perokok, AIDS timbul rata-rata dalam 8,17 bulan, sedangkan pada kelompok bukan perokok timbul setelah 14,5 bulan. Penurunan kekebalan tubuh pada perokok menjadi pencetus lebih mudahnya terkena AIDS sehingga berhenti merokok penting sekali dalam langkah pertahanan melawan AIDS. Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris, didapatkan kebiasaan merokok memperbesar kemungkinan timbulnya AIDS pada pengidap HIV. Pada kelompok perokok, AIDS timbul rata-rata dalam 8,2 bulan, sedangkan pada kelompok bukan perokok timbul setelah 14,5 bulan. Penurunan kekebalan tubuh pada perokok menjadi pencetus lebih mudahnya terkena AIDS sehingga berhenti merokok penting sekali dalam langkah pertahanan melawan AIDS (Adbrite, 2008).
10.    Merokok dapat mengurangi aliran oksigen dan zat gizi yang diperlukan sel kulit Anda dengan jalan menyempitkan pembuluh darah di sekitar wajah. Sehingga akan menyebabkan keriput.
11.    Partikel dari rokok sigaret dapat memberi bercak kuning hingga cokelat pada gigi Anda, dan ini juga akan memerangkap bakteri penghasil bau di mulut Anda. Kelainan gusi dan gigi tanggal juga lebih sering terjadi pada perokok. Pada awal tahun 1947 dilaporkan adanya keterkaitan antara penyakit periodontal / periodontal disease bentuk nekrotik dan merokok. Pada dekade selanjutnya, sejumlah penelitian menunjukkan keterkaitan antara merokok dengan parameter-parameter jaringan periodontal dan higiene mulut, yang meliputi indeks gingiva, kedalaman probing, ambang attachment klinis, dan gambaran ambang tulang alveolar. Hasil beberapa penelitian awal menunjukkan adanya suatu hubungan positif antara merokok dengan berat/ringannya periodontal disease, pengaruh faktor pengganggu (confounding) potensial seperti: keadaan sosio-ekonomi, pendidikan, yang pada akhirnya juga berpengaruh pada ambang higiene mulut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada perokok terlihat ambang debris lebih tinggi dibanding bukan perokok. Pada tahun 1970 dan awal tahun 1980 keadaan ini digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan bahwa ambang hygiene mulut yang berbeda-beda berpengaruh pada prevalensi periodontal disease. Hasil ini menunjukkan bahwa pada perokok tampak jelas prevalensi penyakit periodontal lebih tinggi walaupun sudah dilakukan koreksi pada faktor pengganggu potensial terutama hygiene mulut. Walaupun pada perokok mempunyai kecenderungan ambang higiene mulut rendah, namun faktor higiene mulut dan/atau sosioekonomi saja tidak dapat menjelaskan terjadinya peningkatan prevalensi dan beratnya periodontal disease. Bahkan pada penelitian di United States baru-baru ini, menemukan bahwa pada orang dewasa yang tidak merokok, 11% dari mereka (perokok pasif) yang terpapar terhadap lingkungan asap rokok di rumah atau kantor dapat terkena periodontal disease dan risiko terkena periodontal disease ini kira-kira 1,5 kali lebih tinggi dibanding mereka yang tidak terpapar lingkungan tersebut, peningkatan resiko ini walaupun lebih kecil jika dibanding pada perokok aktif, yaitu sebesar lebih 5 kali, perlu diperhitungkan untuk perkembangan penyakit gusi. Selain penelitian diatas, penelitian lain juga lain menjelaskan bahwa perokok lebih mudah mengalami gingivitis daripada non-perokok, dan menurut National Health and Nutrition Examination Survey III (NHANES) juga menyatakan bahwa perokok yang menghisap 9 batang rokok per hari kemungkinan untuk menderita periodontitis 2,8 kali lebih besar disbanding bukan perokok, serta akan bertambah menjadi 6kali lebih besar jika merokok lebih dari 31 batang per hari. Tar yang tidak dibersihkan pada perokok, biasanya ikut membantu dalam pembentukan kalkulus. Tar yang terdapat dibawah gusi ini biasnya sulit dibersihkan, sehingga dapat menyebabkan inflamasi dan infeksi pada jaringan periodontal.
12.    Karsinoma sel skuamosa merupakan tumur ganas yang berasal dari sel-sel epitel skuamosa yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan biasanya menimbulkan metastase. Tembakau berisi bahan karsinogen seperti : nitrosamine, polycyclic aromatic,  hydrokarbon, nitrosodicthanolamine, nitrosoproline, dan polonium. Tembakau merupakan faktor etiologi tunggal yang paling penting. Tembakau dapat dikunyah-kunyah, atau diletakkan dalam mulut untuk diisap, pada semua keadaan tersebut tembakau mempunyai efek karsinogenik pada mukosa mulut.  Efek dari penggunaan tembakau yang tidak dibakar ini erat kaitannya dengan timbulnya “oral leukoplakia” dan lesi mulut lainnya pada pipi, gingiva rahang bawah, mukosa alveolar, dasar mulut dan lidah.  Kebiasaan mengunyah tembakau di masyarakat Asia dengan menggunakan campuran sirih dan pinang yang sering dan dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan Karsinoma sel skuamosa sesuai dengan letak campuran tembakau yang ditempatkan pada rongga mulut. Mengunyah tembakau dengan menyirih dapat meningkatkan keterpaparan carcinogen tobacco specific nitrosamine (TSNA) dan nitrosamine yang berasal dari alkaloid pinang. Orang yang merokok memeiliki  6 kali peluang lebih besar untuk terkena kanker daripada oaring yang tidak merokok.  Pada perokok berat, merokok dapat menyebabkan lidah berwarna hitam dan seperti berbulu atau berambut. Di permukaan lidah, hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecokelatan mudah dideposit, sehingga perokok sukar merasakan rasa manis, pahit, asin, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds).1 Kondisi lidah yang berwarna hitam dan seperti berbulu pada orang yang mempunyai kebisaan merokok ini disebut dengan hairy tongue.
13.    Di dalam perut dan usus 12 jari terjadi keseimbangan antar pengeluaran asam yang dapat mengganggu lambung dengan daya perlindungan. Tembakau meningkatkan asam lambung sehingga terjadilah tukak lambung dan usus 12 jari. Perokok menderita gangguan 2x lebih tinggi dari bukan perokok.
14.    Perokok memetabolisme berbagai jenis obat lebih cepat daripada non perokok yang disebabkan enzim – enzim di mukosa, usus, atau hati oleh komponen dalam asap tembakau. Dengan demekian, efek obat – obat tersebut berkurang, sehingga perokok membutuhkan obat dengan dosis lebih tinggi daripada non perokok (analgetik, obat anti angina dan lain-lain).
15.    Menurut Adnil Basha (2004: 1) hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan angka kesakitan atau morbiditas dan angka kematian atau mortalitas. Sedangkan menurut Lanny Sustrani, dkk (2004: 12) hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya. Menurut WHO batas normal tekanan darah adalah 120–140 mmHg tekanan sistolik dan 80 – 90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg. Sedangkan menurut JNC VII 2003 tekanan darah pada orang dewasa dengan usia diatas 18 tahun diklasifikasikan menderita hipertensi stadium I apabila tekanan sistoliknya 140 – 159 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 – 99 mmHg. Diklasifikasikan menderita hipertensi stadium II apabila tekanan sistoliknya lebih 160 mmHg dan diastoliknya lebih dari 100 mmHg sedangakan hipertensi stadium III apabila tekanan sistoliknya lebih dari 180 mmHg dan tekanan diastoliknya lebih dari 116 mmHg (Lanny Sustrani, 2004: 15).
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer. Berbagai faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tahanan perifer akan mempengaruhi tekanan darah, Salah satunya adalah kebiasaan hidup yang tidak baik seperti merokok. Dengan menghisap sebatang rokok maka akan mempunyai pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah atau hipertensi. Hal ini dapat disebabkan karena gas CO yang dihasilkan oleh asap rokok dapat menyebabkan pembuluh darah “kramp” sehingga tekanan darah naik, dinding pembuluh darah menjadi robek (Suparto, 2000:74). Karbon monoksida menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung peredaran oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat arterosklerosis (pengapuran atau penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian CO menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah sehingga mempermudah penggumpalan darah. Selain zat CO asap rokok juga mengandung nikotin. Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatkan kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah dan kebutuhan oksigen jantung serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga menggangu kerja otak, saraf dan bagian tubuh yang lain. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombo (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. Nikotin, CO dan bahan lainnya dalam asap rokok terbukti merusak dinding endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan mempermudah penggumpalan darah. Akibat penggumpalan (trombosi) akan merusak pembuluh darah perifer. Walaupun nikotin dan merokok menaikkan tekanan darah diastole secara akut, namun tidak tampak lebih sering di antara perokok, dan tekanan diastole sedikit berubah bila orang berhenti merokok. Hal ini mungkin berhubungan dengan fakta bahwa perokok sekitar 10-20 pon lebih ringan dari pada bukan perokok yang sama umurnya, tinggi badannya, jenis kelaminnya. Bila mereka berhenti merokok, sering berat badan naik. Dua kekuatan, turunnya tekanan diastole akibat adanya nikotin dan naiknya tekanan diastole karena peningkatan berat badan, tampaknya mengimbangi satu sama lain pada kebanyakan orang, sehingga tekanan diastole sedikit berubah bila mereka berhenti merokok. Selain itu juga mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer maupun pembuluh darah di ginjal sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Merokok sebatang setiap hari akan mengakibatkan tekanan darah sistole 10-25 mgHg dan menambah detak jantung 5-20 kali persatu menit (Mangku Sitoepoe, 1997:29).

TIPS dan TRIK
•    Keluarga dan sahabat anda. Perasaan mau berhenti merokok akan menjadi lebih mudah dengan sokongan, dukungan dan kerjasama dengan mereka.
•    Buang semua rokok, mancis, pemetik api dan bekas abu rokok
•    Belajar menolak tawaran orang lain untuk merokok. Jauhi orang yang sedang merokok
•    Tarik nafas panjang-panjang untuk menenangkan perasaan, minum air sejuk atau mandi sekiranya berasa gian untuk merokokKuatkan semangat anda. Jangan mudah menyerah kalah
•    Minum lebih banyak air, elakkan minuman keras, kopi dan lain-lain minuman yang boleh merangsang anda untuk merokok- Makan lebih banyak sayur-sayuran serta buah-buahan
•    Libatkan diri dengan hobi atau kegiatan luar seperti berenang, berjalan, joging dan sebagainya untuk memenuhi masa lapang.

Persembahan: untuk ayahquh dan teman-temanquh tersayang…mga kalian dapat berhenti dari belenggu setan rokok ini yaw…(: cmangat..cmangat..cmangat!!!! :)  

“Mari Kita Galakkan Hari Tanpa Tembakau (Merokok), Demi Hidup Yang Lebih Baik.”

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews